Minggu, 03 Juni 2012

Al Makky dan Al Madani


A.    Pengertian
Para sarjana muslim mengemukakan empat perspektif dalam mendefinisikan terminologi makkiyyah dan madaniyyah. Ke empat perspektif itu adalah
-    Perspektif masa turun (zaman an-nuzul)
Dari perspektif masa turun, mereka mendefinisikan kedua terminologi diatas sebagai berikut
المكي    : ما نزل قبل الهجرة وان كان بغير مكة.
والمدني    : ما نزل بعد الهجرة وان كان بغير مدينة. فما نزل بعد الهجرة ولو
  بمكة او عرفة مدنني.
Artinya: “Makkiyah ialah ayat-ayat yang diturunkan sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah, kendatipun bukan turun di Makkah. Madaniyyah ialah ayat-ayat yang diturunkan sesudah Rasulullah hijrah ke Madinah, kendatipun bukan turun di Madinah. Ayat-ayat yang turun setelah peristiwa hijrah disebut Madaniyyah walaupun turun di Makkah atu Arafah”.
-    Perspektif tempat turun  (makkah an nuzul)
Dari perspektif tempat turun, mereka mendefinisikan kedua terminologi di atas sebagai berikut
ما نزل بمكة وماجاورها كمنا وعرفة وحديبية.
والمدني: ما نزل بالمدينة وماجاورها كأحد، قباء وسلع.
Artinya: “Makkiyah ialah ayat-ayat yang diturunkan di Makkah dan sekitarnya seperti Mina, Arafah, dan Hudaibiyah. Sedangkan Madaniyyah ialah ayat-ayat yang diturunkan di Madinah dan sekitarnya seperti Uhud, Quba dan Sul’a”.
-    Perspektif objek pembicaraan (Mukhatab)
Dari perspektif objek pembicaraan, mereka mendefinisikan kedua terminologi di atas sebagai berikut:
المكي: ماكان خطابا لأهل مكة، والمدني: ماكان خطابا لأهل المدينة
Artinya: “Makkiyah adalah ayat-ayat yang menjadi kitab bagi orang-orang Makkah, sedangkan Madaniyyah adalah ayat-ayat yang menjadi kitab bagi orang-orang Madinah”.
Adapun pendefinisian Makiyyah dan Madaniyyah dari perspektif tema pembicaraan akan disinggung lebih terinci dalam uraian karakteristik kedua klasifikasi tersebut.
Kendatipun mengunggulkan pendefinisian Makkiyyah dan Madaniyyah dari perspektif masa turun, Subhi Sholih melihat komponen-komponen serupa dalam tiga pendefinisian di atas. Pada ke 3 versi itu terkandung komponen masa, tempat, dan orang.

B.    Cara mengetahui Makkiyyah dan Madaniyyah
1.    Pendekatan Transmisi (Periwayatan)
Dengan pendekatan ini para sarjana muslim merujuk pada riwayat-riwayat valid yang berasal dari para sahabat yaitu orang-orang yang besar kemungkinan menyaksikan turunnya wahyu, atau generasi tabi’in yang saling berjumpa dan mendengar langsung dari para sahabat tentang aspek-aspek berkaitan dengan proses kewahyuan Al-Qur’an, termasuk di dalamnya adalah informasi kronologis Al-Qur’an.
2.    Mengkaji riwayat-riwayat dan nash-nash naqli (metode deduksi/ sima’i)
Metode ini berpijak pada riwayat-riwayat, nash-nash dan peristiwa-peristiwa yang memberi petunjuk dan mengisahkan surah-surah dan ayat-ayat sehingga dengan cara ini bisa diketahui Makkiyyah dan Madaniyyahnya.
3.    Metode deduksi (Metode klasik)
Metode ini bersandar pada karakteristik-karakteristik yang mereka ketahui dari uslub (susunan) dan mawdhu’ (tema) surah atau ayat, kemudian membedakan keduanya dengan ijtihad mereka.

C.    Dasar untuk membedakkan Makkiyyah dan Madaniyyah
1.    Perbedaan berdasarkan karakteristik personal ayat dan surat
Para ulama mengatakan bahwa ayat Makkiyyah adalah ayat-ayat yang di dalamnya terdapat redaksi; Ya ayyuha al-nas, sebab ayat tersebut merupakan khitab bagi penduduk Makkah yang belum menjadi muslim. Adapun pada ayat Madaniyyah terdapat khitab; Ya ayyuhan al-ladzina, dengan anggapan bahwa penduduk Madinah sudah menjadi muslim.
2.    Perbedaan berdasarkan tempat
Para ulama menjadikan tempat beliau menerima wahyu sebagai dasar pembeda. Apabila Rasulullah berada di Makkah ketika itu, maka ayat atau surat tersebut adalah Makkiyyah. Dan apabila beliau berada di Madaniyyah, maka ayat tersebut termasuk Madaniyyah.
3.    Perbedaan berdasarkan waktu
Yang dimaksudkan adalah menjadikan hijrah sebagai dasar pembeda, sehingga ayat-ayat yang turun sebelum hijrah ke Madinah, meskipun turunnya bukan di Makkah disebut ayat Makkiyyah. Dan ayat-ayat yang turunnya sesudah hijrah meskipun turun di Makkah disebut Madaniyyah.

D.    Klasifikasi ayat dan surat Al Qur’an
Dalam pandangan para sarjana muslim, pijakan pertama untuk mengklasifikasikan bagian ayat-ayat al-Qur’an adalah hadits dan pernyataan-pernyataan para mufasir yang belakangan, meskipun nampak memberi perhatian kepada bukti-bukti internal, para sarjana muslim yang mula-mula jarang menggunakannya secara eksplisit dalam argumentasinya. Hadits-hadits yang dipermasalahkan disini kurang lebih bermakna bahwa suatu bagian al-Qur’an tertentu diwahyukan sehubungan dengan peristiwa tertentu.
Menurut Abu Qosim An-Naisaburi yang mengikuti sistem penanggalan al-Qur’an berdasarkan sejarah dan masa turunnya (manhaj tarikh zamani), ia membagi kronologi al-Qur’an ke dalam tiga tahap. Pertama, tahap permulaan (marhalah ibtidaiyah).
1.    Surat al-Alaq (96)           5. Surat al-Insyirah (94)
2.    Surat al-Mudatsir (74)     6. Surat al-Adiyah (100)
3.    Surat at-Takwir (81)       7. Surat at-Takwir (102)
4.    Surat al-Lail (92)
Kedua, tahap pertengahan (marhalah muthawasithah) diantaranya adalah:
1.    Surat Abasa (80)                5. Surat al-Mursalat (77)
2.    Surat ath-Thin (95)            6. Surat al-Balad (90)
3.    Surat al-Qori’ah (101)        7. Surat al-Hijr (15)
4.    Surat al-Qiyamah (75)
Ketiga, tahap akhir (marhalah khatamiyah) diantaranya adalah:
1.    Surat ash-Shaffat (37)        5. Surat Al-Kahfi (18)
2.    Surat az-Zukhruf (43)        6. Surat Ibrahim (14)
3.    Surat ad-dukhan (44)         7. Surat as-Sajdah (32)
4.    Surat adz-Dzariyat (51)
Sistem penanggalan Makkiyah dan Madaniyyah di dasarkan pada asumsi; pertama, surat-surat Al-Qur’an yang ada sekarang ini merupakan unit-unit wahyu orisinil. Kedua, memungkinkan untuk menetapkan tatanan kronologisnya. Ketiga, bahan-bahan tradisional termasuk literatur hadist, sirah (sejarah), asbab an-nuzul, nasikh mansukh, serta kitab-kitab tafsir bi al-ma’tsur telah menyediakan suatu basis yang kokoh untuk penanggalan surat-surat Al-Qur’an. 

E.    Ciri-ciri khas ayat-ayat Makiyyah dan Madaniyyah
Para ulama telah meneliti surah-surah Makki dan Madani; dan menyimpulkan beberapa ketentuan analogis bagi keduanya, yang menerangkan ciri-ciri khas gaya bahasa dan persoalan-persoalan yang dibicarakannya. Dari situ mereka dapat menghasilkan kaidah-kaidah dengan ciri-ciri tersebut.

Ketentuan Makki dan Ciri Khas Temanya
1.    Setiap surah yang di dalamnya mengandung “sajdah” maka surah itu Makki.
2.    Setiap surah yang mengandung lafal kalla, berarti Makki. Lafal ini hanya terdapat dalam separuh terakhir dari Al-Qur’an. Dan disebutkan sebanyak tiga puluh kali dalam lima belas surah.
3.    Setiap surah yang mengandung ya ayyuhal lazina amanur-ka’u wasjudu. Namun demikian sebagian besar ulama berpendapat bahwa ayat tersebut adalah ayat Makki.
4.    Setiap surah yang mengandung kisah para nabi dan umat terdahulu adalah Makki, kecuali surah Baqarah.
5.    Setiap surah yang mengandung kisah Adam dan Iblis adalah Makki, kecuali surah Baqarah.
6.    Setiap surah yang dibuka dengan huruf-huruf singkatan, seperti Alif Lam Mim, Alif Lam Ra’, Ha’ Mim, dan lain-lainnya, adalah Makki, kecuali surah Baqarah dan Ali Imran. Sedang surah Ra’d masih diperselisihkan.
Ini adalah bagian dari segi ketentuan, sedang dari segi ciri tema dan gaya bahasa dapatlah diringkas sebagai berikut:
1.    Ajakan kepada tauhid dan beribadah hanya kepada Allah, pembuktian mengenai risalah, kebangkitan, dan hari pembalasan, hari kiamat dan kengeriannya, neraka dan siksaan-Nya, surga dan nikmat-Nya, argumentasi terhadap orang musyrik dengan menggunakan bukti-bukti rasional dan ayat-ayat kauniah.
2.    Peletakkan dasar-dasar umum bagi perundang-undangan dan akhlak mulia yang menjadi dasar terbentuknya suatu masyarakat; dan penyingkapan dosa orang musyrik dalam penumpahan darah, memakan harta anak yatim secara zalim, penguburan hidup-hidup bayi perempuan dan tradisi buruk lainnya.
3.    Menyebutkan kisah para nabi dan umat-umat terdahulu sebagai pelajaran bagi mereka sehingga mengetahui nasib orang yang mendustakan sebelum mereka; dan sebagai hiburan buat Rasulullah sehingga ia tabah dalam menghadapi gangguan mereka dan yakin akan menang.
4.    Suku katanya pendek-pendek disertai kata-kata yang mengesankan sekali, pernyataanya singkat, di telinga terasa menembus dan terdengar sangat keras, menggetarkan hati, dan maknanya pun meyakinkan dengan diperkuat lafal-lafal sumpah; seperti surah-surah yang pendek-pendek. Dan perkecualiannya hanya sedikit.
Ketentuan Madani dan Ciri Khas Temanya
1.    Setiap surah yang berisi kewajiban atau had (sanksi) adalah Madani.
2.    Setiap surah yang di dalamnya disebutkan orang-orang munafik adalah Madani.
3.    Setiap surah yang di dalamnya terdapat dialog dengan Ahli Kitab adalah Madani.
Ini dari segi ketentuan, sedang dari segi ciri khas tema dan gaya bahasa dapatlah diringkaskan sebagai berikut :
1.    Menjelaskan ibadah, muamalah, had, kekeluargaan, warisan, jihad, hubungan sosial, hubungan internasional, baik di waktu damai maupun perang, kaidah hukum dan masalah perundang-undangan.
2.    Seruan terhadap Ahli Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani, dan ajakan kepada mereka untuk masuk Islam, penjelasan mengenai penyimpangan mereka terhadap kitab-kitab Allah, permusuhan mereka terhadap kebenaran dan perselisihan mereka setelah ilmu datang kepada mereka karena rasa dengki diantara sesama mereka.
3.    Menyingkap perilaku orang munafik, menganalisis kejiwaannya, membuka kedoknya dan menjelaskan bahwa ia berbahaya bagi agama.
4.    Suku kata dan ayatnya panjang-panjang dan dengan gaya bahasa yang memantapkan syariat serta menjelaskan tujuan dan sasarannya.

F.    Surat-Surat Makkiyah dan Madaniyyah
Para ulama berbeda pendapat dalam jumlah Madaniyyah. Suyuti telah mengutip dari Ibnu Al Hashshar bahwa Madaniyyah terdiri atas 20 surat, 12 surat diperselisihkan dan lainnya Mukkiyyah.
-  Surat-surat Madaniyyah yang 20, surat yang termasuk didalamnya adalah :
1.    Al-Baqarah        11. Al Hujarat
2.    Ali Imran            12. Al Hadid
3.    An-Nisa’            13. Al Mujadilah
4.    Al-Maidah            14. Al Hasyar
5.    Al-Anfal            15. Al Mumtahanah
6.    At-Taubat            16. Al Jum’ah
7.    An-Nur            17. Al Munafiqun
8.    Al-Ahzah            18. At Thalaq
9.    Muhammad        19. At Tahrim
10.    Al-Fath            20. An-Nashr
-   Surat yang diperselisihkan adalah :
1.    Al-Fatihah            7. Al Qodar
2.    Ar-Ra’d            8. Al Bayyinah
3.    Ar Rachman        9. Az Zilzilah
4.    Ash-Shaf            10. Al Ikhlas
5.    At-Taqhabun        11. Al Falaq
6.    At-Tathfif            12. An-Nas
-   Surat-surat Makkiyah
Sedangkan yang dimaksud surat Makkiyyah adalah selain surat-surat yang disebutkan diatas berjumlah 82 surat.

G.    Faedah Mempelajari Makkiyyah dan Madaniyyah
Surat Makkiyyah dan Madaniyyah bagi ilmu mempunyai faedah yang penting diantaranya adalah :
1.    Sebagai penolong dalam menafsirkan Al-Qur’an
Mengetahui tempat-tempat turunnya ayat itu, menolong untuk memahami ayat dan menafsirkannya.
2.    Merasak enaknya metode-metode Al-Qur’an dan sebagainya diadakan pada metode dakwah  dan meresapi gaya bahasa Al-Qur’an.
Karakteristik gaya bahasa Makky dan Madani memberi sebuah metode dalam penyampaian dakwah.
3.    Mengetahui sejarah hidup Nabi melalui ayat-ayat Al-Qur’an
Sebab turunnya wahyu kepada Nabi sejalan dengan sejarah dakwah dengan segala peristiwanya.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Rosihon. Ulumul Qur’an. Pustaka Setia, Bandung: 2006.
Al Aththar, Dawud. Ilmu Al-Qur’an. Pustaka Hidayah, Bandung: 1994.
Manna Khalil Al Qattan. Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an. Pustaka Lifera, Bogor : 2006.
Ar Rumi, Fadh bin Abdur Rachman. Umulul Qur’an. Titian Ilahi Press, Yogyakarta: 1996.
Manna, Qatthan. Pembahasan Ulumul Qur’an. Rineka Cipta, Jakarta: 1993.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar