Senin, 20 Desember 2010

Sumber-Sumber Pengetahuan

A. Sumber-Sumber Pengetahuan
Sumber ilmu pengetahuan yang menjadi kajian di sini adalah aspek-aspek yang mendasari lehirnya ilmu pengetahuan yang berkembang dan mungkin muncul di tengah kehidupan umat manusia masa lalu dan masa kini. Pentingnya mengkaji sumber ilmu pengetahuan didasarkan atas: 1) Adanya pembedaan pandangan di kalangan filosof dan saintis tentang apa yang menjadi sumber ilmu; 2) perbedaan itu ternyata berkonsekwensi pada perbedaanya para digma yang dianut oleh masing-masing komunitas masyarakat dalam memandang dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan.
Misalnya, dunia Islam melalui filosof dan saintisnya, ternyata memiliki paradigma tersendiri dalam merumuskan sumber ilmu pengetahuan. Dan ini berbeda secara signifikan dengan sumber ilmu pengetahuan yang dikonstruk filosof dan saintis Barat kontemporer yang mengadopsi secara total terhadap paradigma keilmuan Yunani yang sangat Aristotalian yang sekuler.
Dikalangan filosof dan saintis Muslim berkembang sebuah pemikiran bahwa sumber ilmu pengetahuan adalah wahyu yang termanifestasi dalam bentuk Al-Qur’an dan sunnah Nabi. Tentu selain sumber empiris yang faktual/iduktif dan rasional/deduktif. Jikapun ada perbedaan pandangan di kalangan masyarakat Muslim, umumnya lebih pada prioritas dalam merumuskan fungsi wahyu, yakni: apakah wahyu menjadi alat konfirmasi (pembenar) atas penemuan fakta empiris-rasional atau justru menjadi alat informasi terhadap lahir dan jalannya ilmu pengetahuan. Perbedaan itu sekali tetap ada! Tetapi perbedaan itu sama-sama masih mempertahankan wahyu sebagai sumber, baik sebagai sumber, baik sebagai sumber utama (informasi) maupun hanya menjadi sumber sekunder (informasi) terhadap segala capaian yang dihasilkan alat indera dan rasio manusia.
Berbeda dengan sumber ilmu dalam Islam, di kalangan filosof dan saintis Barat, sumber ilmu pengetahuan dibatasi hanya pada dua sumber utama. Kedua sumber ilmu pengetahuan yang ada di komunitas masyarakat terakhir ini adalah pengetahuan yang lahir atas pertimbangan rasio (akal/deduksi) dan pengetahuan yang dihasilkan pengalaman (empiris/induksi). Sumber pengetahuan yang mendasari kebenaran pada pengalaman ini diistilahkan dengan empirisme, sedangkan kebenaran yang pertimbangannya pada rasio dikenal dengan istilah rasionalisme.
Dari berbagai rujukan yang berhasil dibaca, di kalangan masyarakat Barat saat ini, masa yang sering disebut formasi agung bagi perkembangan filsafat, sain dan aplikasinya dalam teknologi, ternyata hanya menyajikan dua sumber ilmu pengetahuan. Kedua sumber dimaksud adalah empirisme dan rasionalisme. Kedua sumber yang dimaksud dalam istilah AC. Ewing sering disebut dengan istilah apriori (murni pertimbangan rasio) dan pertimbangan emperikal (pengalama yang bersifat faktual). Noeng Muhadjir menambahkanya dengan istilah sensual. Sehingga rumusan yang dipakai tokoh terakhir ini sering diistilahkan dengan rasional sensual dan empiris sensual.
Masalahnya, faktor apa yang menyebabkan dunia Barat hanya hanya mengakui dua sumber ilmu pengetahuan dan menafikan sumber lain di luar dua sumber tadi seperti wahyu intuisi? Jawaban terhadap pertanyaan ini memang sangat komplek. Namun kita mungkin dapat merabanya dengan menyebut salah satu faktor yakni; lahirnya ilmu pengetahuan di dunia Barat didorong oleh semangat pembebasan kalangan filosof saintis yang bercita-cita membebaskan ilmu dari cengkraman Gereja. Dengan kata lain, ilmu lahir sebagai antitesis dari sistem dan doktrin Gereja yang mengontrol jalanya ilmu pengetahuan yang ancillia theologie. Hal ini tentu berbeda dengan tradisi keilmuan filosof dan saintis Muslim yang melahirkan ilmu justru atas dorongan atau sepirit kewahyuan.
Mencermati kategorisasi ilmu di atas, ilmu dilihat dar sumbernya dapat dibagi menjadi dua kategori besar. Dua kategori tersebut adalah: pertama, ilmu yang diberkan Tuhan kepada manusia yang dipilih-Nya melalui para nabi dan rasuldalam bentuk wahyu dan kitab suci keagamaan; kedua ilmu yang dihasilkan manusia melalui penalarannya terhadap alam dan manusia serta hubungan antara manusi dengan manusia dan antrara manusia dengan alam.
Dilihat dari sisi pemanfaatanya, ilmu baik yang bersumber Tuhan (wahyu) maupun ilmu yang dihasilkan oleh kreativitas manusia, dapat dibedakan menjadi ilmu teoritis dan ilmu praktis. Ilmu terakhir ini dihasilkan oleh kekuatan pancaindra manusia melalui pendekatan empiris dan rasionalis.
Bentuk praktis dari ilmu terapan, dikerjakan ilmuan melalui tahap kerja yang simultan dan bertahap. Pertama, ilmuan yang menghimpun sebuah fakta dari suatu objek yang akan dikajinya, dilakuakn melalui pendekatan induksi dengan basis empirisme. Kedua, ilmuan “melukis” fakta dimaksud dengan cara: membentuk definisi yang bersifat umum, melakukan analisa tehadap fakta dan kemudian melakukan klasifikasi terhadap fakta-fakta. Ketiga, memberikan penjelasan terhadap fakta-fakta tadi dengan cara, membentuk sebab-sebab yang mendahuluisuatu peristiwa dan merumuskan hokum sebab akibat dan fakta-fakta yang ada.
B. Indera (Empiris)
Pengetahuan diperoleh dengan perantara indera, kata seorang penganut empirisisme. John Locke, Bapak empirisisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan akalnya merupakan sejenis buku catatan yang kosong (tabula rasa), dan didalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan mengunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari pengindraan serta refleksi yang pertama-tama dan sederhana tersebut.
Ia memandang akal sebagai sejenis tempet penampungan, yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertam-tama, yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun obyek-obyek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu dilacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang faktual.
Akal (rasio) adalah pasif pada waktu pengetahuan itu didapatkan. Akal tidak melahirkan pengetahuan dari dirinya sendiri. Semula akal serupa dengan secarik kertas yang tanpa tulisan, yang menerima segala sesuatu yang dating dari pengalaman. Locke tidak membedakan antara pengetahuan inderawi dan pengetahuan akali. Satu-satunya sasaran atau obyek pengetahuan adalah gagasan-gagasan atau idea-idea, yang timbulnya karena pengalaman lahiriyah (sensation) dan karena pengalaman bathiniah (refletion). Pengalaman lahiriyah mengajarkan kepada kita tentang hal-hal yang diluar kiat, sedangkan pengalaman bathiniah mengajarkan tentang keadaan-psikis kita sendiri. Kedua macam pengalaman ini jalin-menjalin. Pengalaman lahiriyah menghasilkan gejala-gejala psikis yang harus ditanggapi oleh pengalaman batiniah. Obyek-obyek pengalaman lahiriyah itu mula-mula menjadi isi pengalaman, karena dihisabkan oleh pengalaman bathiniah, artinya obyek-obyek itu tampil dalam kesadaran. Dengan demikian mengenal adalah identik dengan mengenal secara sadar. Di dalam hal ini Locke sama dengn Descraste. Segala sesuatu yang ada di luar kita menimbulkan di dalam diri kita gagasan-gagasan dari pengalaman lahiriyah.
Locke membedakan antara gagasan-gagasan yang tunggal (simple ideas) dan gagasan majemuk (complex ideas). Gagasan tunggal mendatangi kita langsung dari pengalaman, tanpa pengolahan logis apa pun, akan tetapi gagtasan-gagasan majemuk timbul dari pencampuran atau pengabungan gagasan-gagasan tunggal. Jika beberapa gagasan secara teratur bersama-sama menampilkan diri, kita menanggapi gagasan-gagasan itu sebagai termasuk suatu hal yang sama, yang berdiri sendiri, yang disebut substansi. Selain dari pada substansi gagasan-gagasan majemuk juga dapat meliputi pengertian tentang keadaan atau modi dan tentang hubungan-hubungan.
Sementara itu, Thomas Hobbes sebagai salah seorang tokoh empirisme yang hidup pada tahun 1588-1679 berpandangan bahwa pengenalan atau pengetahuan diperoleh karena pengalaman. Juga awal pengetahuan tentang asas-asas yang diperoleh dan diteguhkan oleh pengalaman.segala ilmu pengetahuan diturunkan dari pengalaman. Hanya pengalaman yang membahas akan kepastian.
Pengalaman dengan akal hanya mempunyai fungsi mekanisme semata-mata, sebab pengenalan dengan akal mewujudkan suatu proses penjumlahan dan pengurangan. Pengenalan dengan akal mulai dengan memakai kata-kata (pengertian-pengertian), yang hanya mewujudkan tanda-tanda yang menurut adat saja, dan yang menjadikan roh manusia dapat memiliki gambaran dari hal-hal yang diucapkan dengan kata-kata itu. Pengertian-pengertian umum hanyalah nama saja, yaitu nama-nama dari gambaran-gambaran ingatan tersebut, bukan nama-nama benda. Nama-nama itu tidak memiliki nilai obyektif. Pendapat atau pertimbangan adalah pengabungan dua nama, sedang syllogisme adalah suatu soal hitung, dimana orang bekerja dengan tiga nama.
Yang disebut pengalaman adalah keseluruhan atau totalitas segala pengalaman, yang disimpan didalam ingatan dan digabungkan dengan suatu pengarapan akan masa depan, sesuai dengan apa yang telah diamati pada masa yang lampau.
Pengamatan inderawi terjadi karena gerak benda-benda diluar kita menyebabkan adanya suatu gerak didalam indera kita. Gerak ini diteruskan kepada otak dan dari otak diteruskan kejantung. Didalam jantung timbul suatu reaksi, suatu gerak dalam jurusan yang sebaliknya. Pengamatan yang sebenarnya terjadi pada awal gerak reaksi tadi.
Sasaran yang diamati adalah sifat-sifat inderawi. Penginderaan disebabkan karena tekanan obyek atau sasaran. Kualitas di dalam obyek-obyek, yang sesuaai dengan penginderaan kita. Warna yang kita lihat, suara yang kita dengar, bukan berada dalam obyek, melainkan di dalam subyeknya. Sifat-sifat inderawi tidak memberi gambaran tentang sebab yang menimbulkan pengindraan. Ingatan, rasa senang dan tidak senang dan segala gejala jiwani, bersandar semata-mata pada asosiasi gambaran-gambaran yang murni bersifat mekanis.
Empirisme berpendapat bahwa pengalaman adalah sumber tahu. Segala pengetahuan bertumpu pada pengalaman. Tidak ada pengetahuan tanpa pengalaman terlebih dahulu. Dengan demikian, pengetahuan menurut aliran ini bersifat a posteriori.
Menurut kelompok ini, gejala alamiah bersifat kongkrit dan dapat dinyatakan lewat tangkapan panca indera manusia. Paham kelompok ini, menjadikan pengetahuan sebagai kumpulan fakta-fakta. Paham ini, pada hampir mirip dengan paham naturalism yang menganggap bahwa hanya alam otentik yang dapat dipercaya.
Empirisme ada dua macam:
1)Empirisme sensualistis
Apabila paham pengalaman dapat ditangkap oleh indera lahir, yaitu segala sesuatu yang ada di “dunia lahir” diluar subyek, seperti bulan, gaung, dan harum.
2)Empirisme konsiensialistis
Bilamana paham pengalaman bisa ditangkap oleh indera batin, yaitu segala sesuatu yang ada di “duni dalam” dari subyek, seperti sedih, puas, dan takut.
Apa yang diutarakan empirisme banyak terbukti dalam hidup. Pengetahuan tentang dinginnya air, panasnya sinar, kerasnya batu, diperoleh setelah mengalami semua itu. Yang menjadi pertanyaan ialah, apakah setiap pengalaman selalu berakhir dengan pengetahuan? Mustahil munculnya pengetahuan tanpa pengalaman terlebih dahulu? Apakah bias terjadi bahwa pengetahuan yang semula kongkret khusus beralih menjadi pengetahuan abstrak umum?
Kelemahan aliran ini cukup banyak. Kelemahan pertama ialah indra terbatas. Benda yang jauh kelihatan kecil. Apakah benda itu kecil? Tidak. Keterbatasan kemampuan indera ini dapat melaporkan obyek tidak sebagai mana adanya: dari sini akan terbentuk pengetahuan yang salah. Kelemahan kedua ialah indera menipu. Pada orang sakit malaria, gula rasanya pahit udara panas dirasakan dingin. Ini akan menimbulkan pengetahuan empiris yang salah juga. Kelemahan ketiga ialah obyek yang menipu, contohnya ilusi, fatamorgana. Jadi, obyek itu sebenarnya tidak sebagai man ia ditangkap oleh alat indera; ia membohongi indera. Ini jelas dapat menimbulkan pengetahuan inderawi yang salah. Kelemahan keempat berasal dari indera dan obyek sekaligus. Dalam hal ini indera (di sini mata) tidak mampu melihat seekor kerbau secara keseluruha, dan kerbau itu juga tidak dsapat memperlihatkan badanya secara keseluruhan. Jika kita melihat dari depan, yang kelihatan adalah kepala kerbau, dan kerbau saat itu tidak mampu sekaligus memperlihatkan ekornya. Kesimpulanya empirisme lemah karena keterbatasan indera manusia. Oleh karean itu, muncul aliran rasionalisme. Ada aliran lain yang mirip dengan empirisme: sensasionalisme. Sensasi artinya rangsangan inderawi. Secara kasar, sensasi sama dengan pengalaman indera.
Aliaram empirisme menggeneralisasikan suatu yang individual. Pada saat orang menemuakan hal yang serupa, ia segera menganalogikannya dengan pengalamanya pada masa lampau. Kesalahan empirisme ialah menerapkan cara berfikir yang benar pada sebagian pengetahuan, untuk semua pengetahuan. Tidak semua pengetahuan bersumber pada pengalaman. Bagi geometri (ilmu ukur) misalnya, pengalaman tak punya arti, sebab pokok pengetahuan di sisni terletak pada aksioma, yaitu pokok yang difikir terlebih dahulu serta yang dianggap benar dan sah. Sekiranya empiris konsekuen, maka apa yang bersifat nonempiris seharusnya ditolak. Aliaran ini meleset sama sekaliketika menerangkan soal hubungan raga dengan jiwa, hubungan jiwa dengan Tuhan. Empirisme menganggap pengetahuan hanya memperhatikan kenyataan belaka, dan apa yang dimaksud olehnya sebagai kenyataan (realitas) adalah isi pengamatan (pengalaman).
Paham empirisme ini, sejak awal kelahirannya di Yunani memang selalu debatebel. Sebab banyak dalam realitas kehidupan yang terjadi dengan tidak mengikuti hokum serta siklus alam. Di era keemasan Islam juga sam. Di komunitas ini paham empirisme telah menjadi perdebatan sengit di antara tokoh-tokoh Muslim. Misalnya perdebatan itu terjadi antara al-Ghazali dengan para filosof yang menggap bahwa ilmu lahir atas prinsip kausalitas. Al-Ghazali mengakui adanya regullita (seperti kapas akan terbakar jika terkena api). Namun kekutan api untuk membakar itu berada di tangan Tuhan yang bersifat meta fisik. Kekuata api untuk membakar itu tidak inheren terdapat dalam api. Tuhan dianggap al-Ghazali dapat melakukan self-contradictory seperti diperlihatkan pada kasus tidak terbakarnya Ibrahim atas sengatan api.
Di abad modern, penolakan terhadap paham ini muncul. Tokoh david Hume yang dianggap sangat liberalis sekalipun, paham ini tetap memperoleh rejeksionis. Hume mengangap bahwa regulariat dianggap tidak mempunyai dasar logika matematika, oleh karena itu, menurut paham ini layak diingkari. Pada dunia empirical, setiap terjadi A, maka akan berkonsekuwensi pada lahirnya B dan seterusnya. Padahal tidak setiap setelah A pasti lahir B, atau B akan lahir A- atau A+ bahkan mungkin Z. dasar dari harapan yang demikian, menurut Hum tidak mengandung logika.
Lepas dari kelemahan yang terdapat pada empirisme, ada juga jasa yang telah disumbangkan aliran ini. Ia mengemukakan dengan tegas bagwa pengetahuan harus mempunyai bahan penglihatan dan pengalaman. Khusus untuk ilmu alam, hal itu memang benar demikian.
Harus pula diakui bahwa paham ini akan mengajak orang untuk mau bertanggungjawab terhadap apa yang dianggapnya benar. Sebab melalui paham ini, dapat pula terumuskanpola pertanggungjawaban dalam memahami kebenaran. Setidaknya kebenaran yang dapat ditangkap oleh indera manusia.
1.Akal (Rasionalisme)
Tidakkah begitu mudah membuat definisi tentang rasionalisme sebagai suatu metode memperoleh pengetahuan. Rasionalisme berpendirian, sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai jenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita, dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. Jika kebenaran (dan, ipso facto, pengetahuan) mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau yang menunjuk kepada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja.
Descartes, bapak rasionalisme kontinental, berusaha menemukan suatu kebenaran yang tidak dapat diragukan yang dari padanya dengan memakai metode deduktif dapat disimpulkan semua pengetahuan kita. Ia yakin, kebenaran-kebenaran semacam itu ada dan bahwa kebenaran-kebenaran tersebut dikenal dengan cahaya yang terang dari akal budi sebagai hal-hal yang tidak dapat diragukan. Secara demikian akal budi dipahamkan: (1) sebagai sejenis perantara khusus yang dengan perantara tersebut dapat dikenal kebenaran, (2) sebagai suatu teknik deduktif yang dengan memakai teknik tersebut dapat ditemukan kebenaran-kebenaran; artinya, dengan melakukan penalaran.
Baik, logika deduktif maupun logika induktif, dalam proses penalarannya, mempergunakan premis-premis yang berupa pengetahuan yang dianggap benar. Kenyataan ini membawa kita kepada kesebuah pernyataan: bagaimanakah caranya kita mendapatkan pengetahuan yang benar itu? Pada dasrnya terdapat dua cara yang pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Yang pertama adalah mendasarkan diri kepada rasio dan yang kedua mendasarkan diri kepada pengalaman. Kaum rasionalisme mengembangkan paham apa yang kita kenal dengan rasionalisme. Sedang mereka yang mendasarkan diri kepada pengalaman mengembangkan paham yang disebut dengan empirisme.
Kaum rasionalis mempergunakan metode deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis yang dipakai dalam penalarannya didapatkannya dari ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima. Ide ini menurut mereka bukanlah ciptaan pikiran manusia. Prinsip itu sendirisudah ada jauh sebelum manusia berusaha memikirkannya. Paham dikenal dengan nama idealisme. Fungsi pikiran manusia hanyalah mengenaliprinsip tersebut yang lalu menjadi pengetahuannya. Prinsip itu sudah ada dan bersifat apriori dan dapat diketahui oleh manusia lewat kemampuan berpikir rasionalnya. Pengalaman tidaklah membuahkan prinsip dan justru sebaliknya, hanya dengan mengetahui prinsip yang didapat lewat penalaran rasional itulah maka kita dapat mengerti kejadian-kejadian yang berlaku dalam alam sekitar kita. Singkat dapat dikatakan bahwa ide bagi kaum rasionalis adalah bersifat apriori dan prapengalaman yang didapatkan manusia lewat penalaran rasional.
Masalah utama yang timbul dari cara berfikir ini adalah mengenai criteria untuk mengetahui akan kebenaran dari suatu ide yang menurut seseorang adalah jelas dan dapat dipercaya. Ide yang satu bagi si A mungkin bersifat jelas dan dapat dipercaya namun hal itu belum tentu bagi si B. Mungkin saja si B menyusun sistem pengetahuan yang sama sekali lain dengan sistem pengetahuan si A kareana si B mempergunakan ide lain yang bagi si B merupakan prinsip yang jelas dan dapat dipercaya. Jadi masalh utama yang dihadapi kaum rasionalis adalah evaluasi dari kebenaran premis-premis ini semunya bersumber pada penalaran rasional yang bersifat abstrak dan terbebas dari pengalaman maka evaluasi semacam ini tidak dapat dilakukan . oleh sebab itu maka lewat penalaran rasional akan didapatkan bermacam-macam pengetahuan mengenai suatu obyek tertentu tanpa adanya suatu konsensus yang dapat diterima oleh semua pihak. Dalam hal ini maka pemikiran rasional cenderung untuk bersifat solipsistic dan subyektif.
Barang kali Spinosa-lah orang yang paling baik dalam memberikan gambaran tentang apa yang dipikirkan oleh orang yang menganut rasionalisme. Ia berusaha menyusun sebuah sistem filsafat yang menyerupai system ilmu ukur. Seperti orang-orang Yunani, Spinoza mengatakan, dalil-dalil ilmu ukur merupakan kebenaran-kebenaran yang tidak perlu dibuktikan lagi. Artinya, Spinoza yakin, jika seseorang memahami makna yang dikandung kata-kata yang dipergunakan dalam dalil-dalil ilmu ukur, maka ia mau tidak mau tentu akan memahami kebenaran dalil-dalil tersebut. Misalnya, ia yakin jika kita memahami makna yang dikandung oleh pernyataan “sebuah garis lurus merupakan jarak terdekat diantara dua buah titik”. Maka kita mau tidak mau mengakui kebenaran pernyataan tersebut.
Menurut hematnya tidak perlu ada bahan-bahan bukti yang lain kecuali makna yang dikandung oleh kata-kata yang dipergunakan. Spinoza menetapkan definisi-definisi tentang berbagai istilah seperti “substansi” dan “sebab bagi dirinya sendiri”, dan sebagainya, dan juga berbagai dalil (misalnya, “apa yang ada, pasti ada”), yang semuanya itu dipandang kebenaran-kebenaran yang tidak perlu lagi dibuktikan, dan ia mencoba untuk menyimpulkan dari kebenaran-kebenaran tersebut kebenaran-kebenaran yang lain mengenai kenyataan, Tuhan, manusia dan kebaikan.
Rasionalisme berpendapat bahwa segala pengetahuan berasal dari sumber:
a.Rasionalisme realistis, bila sasaran berupa bahan pengalaman lahir-batin yang berada diluar kesadaran subyek. Pengetahuannya tertuju langsung kepada yang sungguh ada itu dan rasio meresap kedalamnya. Obyek ini sendiri bukanlah ciptaan sukma manusia.
b.Rasionalisme idealistis jika sasarn berupa bahan pemikiran yang berada didalam kesadaran subyek. Pengalaman melampaui pengalaman panca indera, tetapi pada tingkat pertama tidak melampaui dirinya sendiri. Oleh karena itu, tak mungkin ada obyek yang terlepas dari pengetahuan subyek.
Jika diteliti dengan seksama ternyata pengetahuan muncul bukan kare pengalaman, pengalaman hanya bertindak sebagai perantara dan penjelas yang tidak berlaku mutlak bagi pengetahuan orang.
Selama pengetahuan yang merupakan hasil pemikiran belum nerap dan terbukti dalam pengalaman selama itu pula pengetahuan tertangkap samar dalam akal. Ini bukan berarti bahwa untuk tahu, akal membutuhkan pengalaman sebab ada kemungkinan pengetahuan terjadi oleh pikiran tanpa pengalaman. Dengan demikian menurut rasionalisme setiap keadaan bisa diterangkan dan diselesaikan oleh akal.
Betapapun hebatnya kemampuan akal kelemahan tetap mengiringinya. Akal selalu berorientasi pad kenyataan lahir. Kenyataan lahir adalah semu dan tertentu, karena itu ada kemungkinan hasil karya akal dan hanya sepotong.
Namun kalau pikiran tidak bersandar pada kenyataan lahir bearti ia menyusun jabaran formal tanpa mengujinya pada bahan pengalaman. Akibatnya, hasil pikiran bisa bertentangan dengan kenyataan, sehingga terasa asing. Dorongan kehendak sering membelokkan penilaian obyektifnya. Dengan kata lain, akal tidak selalu lurus. Selain itu, daerah jelajah akal juga ada batasnya. Setiap kali ia sampai pada batasnya yang diduga berakhir ternyata masih terbentang daerah yang cukup luas dihadapannya.
Dalam bidang ilmu penelitian yang berkelanjutan menyingkap keterbatasan daya akal ini. Keberlakuan akal sebagai sumber tahu disangsikan sebab akal kadang-kadang berfikir kadang-kadang tidak. Sebagai sumber akal seharusnya tetap sadar. Pada saat menyadarkan apa yang ada dalam alam bawah sadar, unsur rasio terlihat bertindak sebagai sumber.
Dengan tidak mengingkari kenyataan di atas akal sudah lama digunakan dalam praktek hidup. Berkat akallah muncul berbagai ilmu pengetahuan serta teknologi. Akal sama tuanya dengan umur manusia. Pada zaman dahulu tidak pernah diselidiki dan tidak pernah ditentukan batasnya.hal ini dapat dibuktikan dengan menelusuri perkembangan agama kuno yang beraneka ragam. Baru pada zaman keemasan filsafat Yunani timbul kritik terhadap akal dan pemeriksaan daerah jangkauan akal karena filosofi Yunani terdiri dari kaum intelek yang berfikir dengan hukum akal. Aristoteles dianggap sebagai penemu hukum akal (logika).
2.Instuisi dan Wahyu
Di samping rasionalisme dan empirisme masih terdapat cara untuk mendapat pengetahuan yang lain. Yang penting untuk kita ketahui adalah intuisi dan wahyu. Sampai sejauh ini, pengetahuan yang didapatkan secara rasional maupun secara empiris, kedua-duanya merupakan induk produk dari sebuah rangkaian penalaran. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Seseorang yang sedang terpusat poemikiranya pada suatu masalah tiba-tiba saja menemukan jawaban atas permasalhan tersebut. Tanpa melalui proses yang berliku-liku tiba0tiba saja dia sudah sampai di situ. Jawaban atas permasalahan yang sedang dipikirkannya muncul dibenaknya bagaikan kebenaran yang membukakan pintu. Atau bias juga, intuisi ini bekerja dalam keadaan yang tidak sepenuhnya sadar, artinya jawaban atas suatu permaslahan ditemukan tdak ada waktu orang tersebut secara sadar sedang menggelutnya. Suatu masalah yang sedang kita pikirkan, yang kemudian kita tunda karena menemui jalan buntu, tiba-tiba saja muncul dibenak kita yang lengkap dengan jawabanya. Kita merasa yakin bahwa memang itulah jawaban yang kita cari namun kita tidak bias menjelaskan bagaimana kita sampai ke sana.
Instuisi dianggap dapat menjadai sumber pengetahuan karena melalui intuisi manusia mendapati ilmu pengetahuan secara langsung tidak melalui proses penalaran tertentu. Melalui instuisi, manusia secara tiba-tiba menemukan jawaban dari permasalahan yang dihadapinya. Eksistensi intuisi sebagai sumber ilmu, diakui juga Maslow dan bahkan oleh Nietzshe. Maslow misalnya menyebut intuisi sebagai peak experience (pengalaman puncak), sementara Nietzche menyebut intuisi sebagai sumber ilmu yang paling tinggi. Namun menurut Nietzsche sifat intuisi sangat personal dan tidak dapat diramalkan sehingga pengalaman seseorang tidak dapat ditransformasi kepada manusia lainnya. Sementara kebenaran ilmiah harus dapat digeneralisir dan tentu sangat berbeda dengan kebenaran intuisi. Dengan demikian Nietzsche, instuisi tidak dapat diandalkan. Ia hanya dapat dijadikan hipotesis yang yang membutuhkan analisis lanjutan.
Kelemahan terpenting dari posisi intuisi sebagai sumber ilmu adalah adanya suatu kenyataan bahwa intuisi hanya berbentuk pengalaman personal atau individual. Karena ia bersifat pengalaman personal, maka pengalaman seseorang tertentu tidak dapat digeneralisasi dan diikuti oleh orang lain. Padahal sifat ilmu yang palingpenting adalah proses generalisasi. Di sini dan dalam konteks inilah, kelompok empiris dan rasio menolak intuisi sebagai sumber ilmu pengetahuan.
Namun demikian, saintis Barat hari ini mulai mengakui eksistensi intuisi sebagai sumber ilmu. C.A. Qadir berpendapat bahwa adanya pengakuan kaum filosof Barat modern terdapat eksistensi intuisi sebenarnya baru terjadi diakhir-akhir adad ke 20, setelah produk rasional dan empiork melahirkan sekularisme yang mekanistik mengenai realitas, dan ketika sama sekali tidak ada tempat bagi ruh atau nilai dalam pengetahuan manusia. Realitas deruduksi menjadi proses, waktu menjadi kuantitas dan sejarah menjadi suati proses yang entelekhi trasenden. Pengetahuan yang dihasilkan dunia Barat kontemporer menjadi salah satu tantangan tersendiri yang berar karena tercerabut dari akar dan kehilangan tujuan yang hakiki.
Henri Bergson (1859-1941) adalah tokoh aliran ini. Ia menganggap tidak hanya indera yang terbatas, akal juga terbatas. Obyek-obyek yang kita tangkap itu adalah obyek selalu berubah, demikian Bergson. Jadi pengetahuan kita tentangnya tidak pernah tetap. Intelek atau akal juag terbatas. Akal hanya dapat memahami suatu obyek bila ia mengonsentrasikan dirinya pada obyek itu, jadi dalam hal seperti itu manusia tidak mengetahui keseluruhan (unique), tidak juga dapat memahami bagian-bagian dari obyek, kemudian bagian-bagian itu digabungkan oleh akal. Itu tidak sam denganpengetahuan menyeluruh tentang obyek itu. Ambilah contoh: adil. Apa itu adil? Akal memahaminya dari segi siterhukum, timbul pemahaman akali; memahaminya dari segi hakim, timbul pemahaman akali; dari segi keluarga siterhukum, timbul pemahaman akali; dari segi jaksa, dan seterusnya. Nanati disimpulkan, adil ialah jumlah pemahaman akali itu. Itu belum tentu benar. Nah, disinilah intuisionisme masuk.
Dengan menyadari keterbatasan indera dan akal seperti diterangkan diatas, Bergson mengembangkan satu kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia, yaitu intuisi. Ini adalah hasil evolusi pemahaman yang tertinggi. Kemampuan ini mirip dengan instinct, tetapi berbeda dalam kesadaran dan kebebasannya. Pengembangan kemampuan ini (intuisi) memerlukan suatu usaha. Kemampuan inilah yang dapat memahami kebenaran yang utuh, yang tetap, yang unique. Intuisi ini menangkap obyek secara langsung tanpa melalui pemikiran. Jadi, indera dan akal hanya mampu menghasilkan pengetahuan yang tdak utuh (spatial), sedangkan intuisi dapat menghasilkan pengetahuan yang utuh, tetap.
Ada sebuah isme lagi yang barang kali merip sekali dengan intuisionisme, namanya ilominasionisme. Aliaran ini berkembang dikalangan tokoh-tokoh agama; didalam islam disebut teori khasif. Teori ini menyatakan bahwa manusia, yang hatinya telah bersih. Telah “siap”, sangup menerima pengetahuan dari Tuhan. Aliaran ini terbentang juga di dalam sejarah pemikiran islam, boleh dikatakan sejak awal dan memuncak pada Mulla Shadara.
Kemampuan menerima pengetahuan secara langsung itu diperoleh dengan cara latihan, yang didalam islam disebut suluk, secara lebih spesifik disebut riyadlah. Riayadlah artinya latihan. Secara lebih umum metode ini diajarkan di dalam thariqati.konon, kemampuan orang-oarang itu ialahsampai melihat Tuhan, berbincang dengan Tuhan, melihat surga, neraka, dan alam gaib lainnya. Dari kemampuan ini dapat dipahami bahwa mereka tentu mempunyai pengetahuan tingkat tinggi yang banyak sekali dan amat meyakinkan. Pengetahuan itu diperoleh bukan lewat indera dan bukan lewat akal, melainkan lewat hati. Dalam hal ini ia sama dengan intuisionisme.
Berbeda dengan instuisi, wahyu adalah pengetahuan yang didapati manusi melalui “pemberian” Tuhan secara langsung kepada hambaNya yang terpilih yang disebut Nabi dan Rasul. Agama menjadi kata kunci dalam wahyu. Ia memberi tahu mengenai kehidupan manusia saat ini dan proses eskatologik yang akan diarungi manusia setelah kehidupanya di dunia.agama menerangkan kepada manusia tentang sejumlah pengetahuan baik yang terjangkau maupun yang tidak terjangkau oleh manusia. Agama bagkan dapat menjadi sumber pengetahuan sekaligus menjadi sumber keyakinan umat manusia. Agama bias menjadi informasi dan sekaligus konfirmasi terhadap ilmu pengetahuan yang didapati manusia.
Edwad O. Wilson berpendapat bahwa agama memiliki nilai penting dalam kehidupan umat manusia. Kebenaran agama dianggapnya bersifat tetap dan sulit untuk dikalahkan oleh apapun.
Stephen R Covey menyebut bahwa, agama terlintas dan berada dalam relung hati dan prilaku keseharian manusia. Jadi menurutnya sekalipun manusia modern secara teoretik menolak agama, tetapi agak sulit untuk meyakinkan bahwa agama tidak dipakai manusia. Ia menyebut bahwa agama akan memuntun orang kepda prilaku positif dan menuntun manusia untuk bersatu dengan Tuhan yang qudus. Agama akan menjadi sikap pandang dan keinginan untuk bersatu dengan wajud-Nya.
---------------------
DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Mudlor.1994. Ilmu dan Keinginan Tahu. Bandung: PT. Trigenda Karya
Kattsoff, Louis O. 1996. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.
Sudarto. 1993. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta.
Sumarna, Cecep. 2006. Filsafat Ilmu Dari Hakikat Menuju Nilai. Bandung: Pustaka Bani Quraisy
Suriasumantri, Jujun S. 2003. Filsafat Ilmu Sebuah pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Tafsir, Ahmad. 2008. Filsafat Umum Akal Dan Hati Sejak Thales Sampai Capra. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar