Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Maret 2012

Inflasi

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Saat ini kita seringkali mendengar kata inflasi. Akan tetapi apa benar kita sudah mengetahui apa inflasi itu. Kebanyakan dari kita tiadak mengetahuinya. Padahal sangat penting bagi kita untuk mengetahui inflasi. Hal ini disebabkan inflasi tidak bisa dilepaskan dari masalah perekonomian.
Dengan mengetahui secara benar tentang masalah inflasi, tentu saja kita berharap dapat mengatasi atau bahkan mencegahnya. Kita tidak bisa memungkiri akan besarnya kemungkinan dinegara kita akan menghadapi masalah inflasi. Sebagai seorang mahasiswa sudah sepatutnya kita membanntu permasalahan ekonomi yang ada di negara kita khususnya masalah inflasi.
Oleh karena itu kami sengaja membuat makalah ini karena masalah inflasi saat ini bukanlah masalah yang remeh terutama di masa-masa krisis global seperti yang kita alami sekarang. Kami berharap makalah ini bisa membantu walaupun sedikit.
B. Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian inflasi itu?
2.    Apasaja sumber inflasi?
3.    Apa saja efek yang ditimbulkan dari inflasi?
4.    Apa dampak dari inflasi?
5.    Bagaimana cara mencegah inflasi?
6.    Bagai mana cara menghitung inflasi?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Inflasi
Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (continue). Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukkan inflasi. Inflasi dianggap terjadi jika proses kanaikan harga belangsung secara terus-menerus dan saling mempengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadang kala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga.
Dalam membicarakan mengenai masalah inflasi, perlu kita membedakan diantara inflasi merayap (creeping inflation), inflasi sederhana (moderate inflation) dan inflasi hiper (hyper inflation). Tidak terdapat suatu ukuran tertentu yang dapat digunakan untuk membedakan ketiga jenis inflasi tersebut, tetapi secara kasar dapatlah dikatakan bahwa inflasi merayap adalah inflasi yang tingkatnya tidak melebihi 2-3 persen setahun, inflasi sederhana adalah inflasi yang berada disekitar 5-8 persen dan inflasi hiper adalah inflasi yang tingkatnya sangat tinggi yang menyebabkan tingkat harga menjadi dua kali lipat atau lebih dalam tempo satu tahun.
B. Sumber Inflasi
Terdapat banyak faktor yang dapat menimbulkan inflasi. Kenaikan harga bahan mentah yang di impor, kenaikan harga bahan bakar, defisi dalam anggaran belanja pemerintah, pinjaman sistem bank yang berlebihan, dan kegiatan infestasi yang sangat pesat perkembanggannya merupakan beberapa contoh dari keadaan-keadaan dalam perekonomian yang dapat menimbulkan inflasi.  Walaupun masalah inflasi dapat ditimbulkan oleh berbagai faktor, secara analitis cukuplah apabila faktor-faktor itu dibedakan dan digolongkan kepada dua faktor berikut:
a.    Inflasi yang diakibatkan oleh perubahan dalam permintaan agregat.
Inflasi karena kenaikan permintaan agregat sering disebut dengan demand-pull inflation (inflasi karena ditarik permintaan). Dalam inflasi jenis tersebut, kenaikan kurve permintaan agregat menarik tingkat harga keatas. Agar demand-pull inflation dapat terus terjadi maka kurve permintaan agregat harus terus bergeser keatas sepanjang kurve penawaran agregat. Kenaikan Amerika selama akhir tahun1960-an adalah karena demand-pull inflation, yaitu pada saat terjadi pertumbuhan belanja federal untuk perang Vietnam dan perluasan sosial yang menaikkan permintaan agregat.
Inflasi tariakan permintaan dapat berlaku pada ketika perekonomian menghadapi masalah penganguran yang tinggi maupun pada ketika kesempatan kerja penuh sudah tercapai. Dikebanyakan negara-negara berkembang inflasi tarikan permintaan selalu berlaku, walaupun dalam perekonomian banyak terdapat pengganguran. Keadaan seperti ini dapat terjadi misalnya sebagai defisit angaran belanja pemerintah yang terlalu besar. Devisit seperti ini dibiayai oleh pencetakan uang baru dan akan meningkatakan permintaan agregat permin taan masyarakat. Sedangkan kapasitas produksi berbagai jenis barang ada kalanya mencapai tingkat yang maksimal dan tidak memungkinkan pertambahan produksi dalam keadaan seperti ini inflasi tarikan permintaan akan berlaku.
Apabila suatu perekonomian telah mencapai tingkat kesempatan kerja penuh. Inflasi tarikan permintaan akan berlaku apabila permintaan agregat masih tetap berkembang dengan pesat. Pada kesempatan kerja penuh, perekonomian tidak akan mampu menaikkan produksi. Maka permintaan agregat yang terus bertambah akan menyebabkan kenaikan harga-harga. Ada beberapa keadaan yang menyebabkan permintaan agregat terus berkembang. Defisit dalam anggaran belanja pemerintah merupakan salah satunya, penyebab yang lain adalah ekspor yang terus pesat berkembang (yang menimbulkan kenaikan pendapatan kepada masyarakat dan terus meningkatkan konsumsi rumah tangga dan perbelanjaan agregat), dan sebagai akibat infestasi perusahaan yang semakin meningkat walaupun kesempatan kerja penuh telah tercapai.
b.    Inflasi yang diakibatkan oleh perubahan dalam penawaran agregat.
Inflasi dapat muncul karena penurunan penawaran agregat, contohnya kegagalan panen dan penurunan penawaran minyak menurunkan penawaran agregat selama tahun 1974-1975, sehingga tinggkat harga naik. Inflasi yang terjadi karena penurunan penawaran agregat sering disebut dengan cost-pust inflation. Kenaikan biaya produksi mendorong tingkat harga ke atas. Penurunan penawaran agregat biasanya tidak hanya menyebabkan kenaikan tingkat harga, tetapi penurunan tingkat output, yaitu kombinasi yang disebut stagflasi. Agar cost-pust inflation dapat terus terjadi maka kurva penawaran agregat harus terus bergeser kekiri sepanjang kurva penawaran agregat.
Inflasi seperti ini berlaku pada ketika kegiatan ekonomi telah mencapai kesempatan kerja penuh. Pada tingkat ini industri-industri telah beroprasi pada kapasitas yang maksimal dan penganguran tenaga kerja sangat rendah. Pada tingkat kegiatan ekonomi ini tenaga kerja cenderung untuk menuntut kenaikan gaji dan upah yang menyebabkan peningkatan fdalam biaya produksi. Biaya produksi juga meningkat sebagai akibat kenaikan harga input seperti biaya pengangkutan, kenaikan sewa bangunan dan kenaikan harga bahan mentah. Kenaikan biaya produksi sebagai akibat dari berbagai faktor ini akan mendorong para pengusaha menaikan harga-harga barang yang diproduksikannya.
C. Efek yang Ditimbulkan dari Inflasi
1.    Efek terhadap pendapatan (equity effect)
Efek tehadap pendapatan sifatnya tidak merata, ada yang dirugikan dan ada yang diuntungkan dengan adanya inflasi. Seorang yang memperoleh pendapatan tetap akan dirugikan oleh adanya inflasi. Misalnya seorang memperoleh pendapatan tetap Rp 500.000,00 per tahun sedang laju inflasi sebesar 10 persen akan menderita kerugian penurunan pendapatan riil sebesar laju inflasi tersebut yaitu Rp 50.000,00.
2.    Efek terhadap efisiensi (efficiency effect)
Inflasi dapat pula mengubah pola alokasi faktor-faktor produksi perubahan ini dapat terjadi melalui kenaikan permintaan akan berbagai macam barang yang kemudian dapat mendorong terjadinya perubahan dalam produksi beberapa barang tertentu sehingga dapat mengakibatkan alokasi faktor produksi menjadi tidak efesien.
3.    Efek terhadap output (output effect)
Dalam menganalisa kedua efek di atas (equity dan efficiency effect) digunakan suatu anggapan bahwa output tetap. Hal ini dilakukan supaya dapat diketahui efek inflasi terhadap distribusi pendapatan dan efisiensi dari jumlah output tertentu tersebut.
4.    Inflasi dan perkembangan ekonomi
Inflasi yang tinggi tingkatnya tidak akan mengalakkan perkembangan ekonomi biaya yang terus menerus naik menyebabkan kegiatan produktif sangat tidak menguntungkan. Maka pemilik modal biasanya lebih suka menggunakan uangnya untuk tujuan spekulasi. Aturan lain tujuan ini dicapai dengan pembeli harta-harta tetap seperti tanah rumah dan bangunan. Oleh karena pengusaha lebih suka menjalankan kegiatan infestasi yang bersifat seperti ini, infestasi produktif akan berkurang dan tingkat kegiatan ekonomi menurun. Sebagai akibatnya akan lebih banyak penganguran.
D. Dampak dari Inflasi
Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif tergantung pada parah atau tidaknya tingkat inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya dalam masa inflasi yang parah yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiper inflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti karyawan swasta serta kaum buruh akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka semakin merosot dan terpuruk dari waktu kewaktu.
Bagi orang meminjam uang kepada bank (debitur), inflasi menguntungkan karena pada saat pembayaran utang kepda kreditur nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya kreditur atau pihak yang meminjamkan akan mengalami kerugian karena nilai uang pengenbalian lebih rendah dibanding pada saat peminjaman.
Bagi produsen inflasi dapat menguntungkaan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi dari kenaikan biaya produksi. Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi dapat merugikan produsen.
Secara umum inflasi dapat mengkibatkan berkurangnya investasi disuatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidak stabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejah traan masyarakat.
E. Cara Mencegah Inflasi
Dengan mengunakan Irving Fisher MV = PT dapat di jelaskan bahwa inflasi timbul karena MV naik lebih cepat dari pada T. Oleh karena itu untuk mencegah terjadinya inflasi maka salah satu variabel (M atau V) harus di kendalikan. Cara mengatur vareabel M,V dan T tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan kebijaksanaan moneter, fiskal atau kebijaksanaan yang menyangkut kenaikan produksi.
a.    Kebijaksanaan Moneter
Sasaran kebijaksanaan moneter di capai melalui jumlah uang yang beredar (M). Salah satu komponen jumlah uang adalah uang giral (demand deposito). Uang giral dapat terjadi melalui dua cara, pertama apabila seseorang memasukkan uang kas ke Bank dalam bentuk giro, instrumen lain yang dapat dipakai untuk mencegah inflasi adalah politik pasar terbuka (jual/beli surat berharga). Dengan cara menjual surat berharga bank sentral dapat menekan perkembangan jumlah uang beredar sehingga laju inflasi dapat lebih rendah.
b.    Kebijaksanaan Fiskal
Kebijakan fiskal menyangkut pengaturan tentang pengeluaran pemerintah serta perpajakan yang secara langsung mempengaruhi permintaan total dan dengan demikian akan mempengaruhi harga. Inflasi dapat dicegah melalui penurunan permintaan total. Kebijakan fiskal yang berupa pengurangan pengeluaran pemerintah serta kenaikan pajak akan dapat mengurangi permintaan total sehingga inflasi dapat ditekan.
c.    Kebijaksanaan yang Berkaitan dengan Output
Kenaikan output dapat memperkecil laju inflasi. Kenaikan jumlah output ini dapat dicapai misalnya dengan kebijaksanaan penurunan bea masuk sehingga impor barang cenderung meningkat. Bertambahnya jumlah barang didalam negeri cenderung menurunkan harga.
d.    Kebijaksanaan Penentuan Harga dan Indexing
Ini dilakukan dengan penentuan ceiling harga, serta mendasarkan pada indeks harga tertentu untuk gaji atau upah (dengan demikian gaji/upah secara riil). Kalau indeks harga naik maka upah atau gaji juga dinaikkan.
2.6  Penghitungan Inflasi
Besarnya angka inflasi di Indonesia dihitung berdasarkan prkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang disajikan oleh BPS dalam bentuk release yang mengambarkan besarnya inflasi pada tingkat nasional dan propinsi maupun untuk masing-masing jenis barang dan jasa yang termasuk dalam pola konsumsi masyarakat. IHK adalah angka indeks yang mengukur besarnya perubahan harga yang terjadi pada sekelompok barang dan jasa yang mewakili konsumsi masyarakat rata-rata diperkotaan.
Secara ringkas biasa dihitung berdasarkan dua komponen utama yaitu, (1) pola konsumsi masyarakat yang direfleksikan dalam bentuk diagram timbangan dari berbagai jenis barang dan jasa yang termasuk dalam keranjang belanja (market basket) keluarga dan (2) perkembangan harga dari masing-masing jenis barang dan jasa yang termasuk dalam market basket tersebut. Dengan kata lain, IHK adalah angka indeks harga yang tertinggal dengan timbangan besarnya pengeluaran rata-rata yang dibayar oleh keluarga di wilayah tertentu. Timbangan ini di peroleh pada tahun yang digunakan pada tahun dasar dari angka indeks tersebut. Formula yang digunakan BPS untuk menghitung IHK ialah formula laspeyers:

     I(t) = jumlah ( Pi(t) X Qi((0) )
              jumlah ( Pi(0) X Qi(0) )

 Keterangan :
I(t)    : indeks pada periode (tahun atau bulan) t
Pi(t)    : harga barang/jasa jenis i pada periode t
Pi(0)    : harga barang/jasa jenis i pada periode dasar atau periode (t-1)
Qi(t)    : barang/jasa jenis i (yang dikonsumsi) pada periode t (ada n jenis)
Qi(0)    : barang/jasa jenis i (yang dikonsumsi) pada periode dasar
        : harga relatif pada periode t terhadap periode dasar

Penghitungan IHK juga bisa dihitung dengan cara:
     P = I (t) - I (t-1)  X 100
                 I (t-1)

Dari formula perhitungan IHK ini jelas bahwa yang berpengaruh pada besarnya inflasi ada dua faktor utama: harga relatif pada bulan ke-t dibandingkan bulan ke-(t-1) dan nilai konsumsi barang dan jasa pada bulan (t-1) yang digunakan sebagai timbangan atau bobot untuk menghitung angka indeks pada bulan t.
DAFTAR PUSTAKA

Algifari. 2003. Ekonomi Makro,Teori dan Kasus, Edisi Kesatu. Yogyakarta: STIE YKPN.
Mceachera, William A. 2000. Ekonomi Makro, Jakarta: Salemba Empat
Sukirno, Sadono. 2000. Makroekonomi Modern, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Tambunan, Tulus, T. H. 1996. Perekonomian Indonesia, Jakarta: Ghalia Indonesia
http://id.nikipedia.org/niki/inflasi.

Kamis, 02 Desember 2010

Pendapatan Nasional

A.Pengertian Pendapatan Nasional
Pendapatan seseorang individu dapat didefinisikan sebagai jumlah penghasilan yang diperoleh dari jasa-jasa produksi yang diserahkanya pada suatu waktu tertentu atau yang diperolehnya dari harta kekayaannya. Pendapatan nasional tidak lebih dari pada penjumlahan dari semua pendapatan individu.1
Pendapatan nasional adalah penjumlahan dari semua (a) upah, gaji, komisi-komisi, bonus, dan lain-lain bentuk penghasilan kerja (sebelum dipotong pajak atau iuran jaminan sosial); (b) pendapatan netro dari rented dan royalty; (c) pendapatan bunga; (d) dan laba, baik laba korporasi, atau laba perusahaan yang terbentuk persekutuan maupun laba perusahaan perseorangan, baik yang dibayarkan pada pemilik maupun yang ditahan didalam perusahaan, dan sebelum dipotong pajak pendapatan.2
Pendapatan nasional dapat juga digolong-golongkan berdasarkan sektor yang menghasilkannya : upah dan gaji serta tunjangan-tunjangan yang berkenaan yang berkenakan tentang itu, misalnya, yang dibayarkan oleh dunia perusahaan, oleh pemerintah oleh organisasi-organisasi swasta yang tidak bertujuan mencari laba, oleh dunia rumah tangga, oleh orang-orang, firm-firm atau organisasi luar negri atau internasional.3
Apabila keseluruhan barang dan jasa yang dihasilkan dalam satu tahun dihitung maka akan diperoleh produk nasional atau pendapatan nasional. Dengan demikian produk nasional atau pendapatan nasional adalah nilai barang akhir dan jasa akhir yang dihasilkan sesuatu negara dalam satu tahun tertentu.4
Suatu konsep yang berhubungan dengan pendapatan nasional adalah konsep “disposibel personal income”. Konsep ini adalah lebih bersifat suatu penerimaan daripada sifat penghasilan, dan dihitung setelah pajak.5
B.Penghitungan Pendapatan Nasional
Tiga cara untuk melakukan penghitungan menghitung pendapatan nasional, yaitu:
a.Cara perbelanjaan/pengeluaran
Cara perbelanjaan dilakukan dengan cara menghitung dan menaksir nilai aliran perbelanjaan yang dilakukan oleh sektor rumah tangga, penanaman modal, pemerintah dan sektor luar negeri. Aliran-aliran perbelanjaan ini merupakan nilai perbelanjaan yang dilakukan ke atas barang-barang akhir dan jasa akhir yang diproduksi oleh sektor perusahaan. Dalam penghitungan pendapatan nasional, investasi perusahaan dinamakan sebagai pembentukan modal tetap domistik bruto.
b.Cara pendapatan
Dalam cara pendapatan, yang dihitung dan ditaksir adalah nilai aliran pendapatan faktor-faktor produksi. Aliran pendapatan faktor-faktor produksi yang paling penting adalah gaji dan upah.
c.Cara produksi neto atau nilai tambah
Untuk menghitung pendapatan nasional dilakukan dengan menghitung dan menaksir nilai tambah yaitu pertambahan nilai uang dari suatu barang yang diwujudkan oleh setiap perusahaan dalam perekonomian. Karena cara ini memperhatikan pertambahan nilai dalam proses produksi, maka cara ini dinamakan cara produksi, dan sering dinamakan sebagai pendekatan “net output” atau “output neto”.6
Faktor produksi (factors of production) adalah input yang digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa.7
Perhitungan pendapatan nasional akan memberikan kepada kita perkiraan GNP secara teratur, yakni pengukuran dasar kinerja perekonomian dalam memproduksi semua barang dan jasa. GNP adalah nilai dari semua barang dan jasa yang diproduksi oleh faktor-faktor produksi dalam negeri dalam satu periode waktu tertentu. Terdapat seluk-beluk kompleksitas yang sangat halus dari perhitungn GNP.
-Barang-barang jadi dan nilai tambah.
Penekanan barang jadi dan nilai tambah adalah untuk memastikan bahwa kita tidak membuat perhitungan ganda.
-Output masa kini
GNP terdiri dari nilai output yang diproduksi masa kini. Dengan demikian, ia tidak meliputi transaksi-transaksi dari komoditi yang sudah ada.
-Harga pasar
GNP menilai harga barang pada harga pasar.
-GNP dan produk domistik bruto
Terdapat perbedaan antara GNP dengan produk domistik bruto atau GDP atau nilai barang jadi yang telah diproduksi di dalam negeri.8
Dalam prateknya, data GNP digunakan tidak hanya untuk mengukur berapa banyak barang dan jasa yang sedang diproduksi, tetapi juga untuk mengukur tingkat kesejahtraan penduduk suatu negara. Dalam pengukuran GNP terdapat tiga masalah pokok antara lain :
a.Sejumlah output diukur dengan sangat sembrono karena ia tidak diperdagangkan dipasar.
b.Sulit untuk menghitung secara tepat perbaikan dari kualitas barang- barang.
c.Sejumlah kegiatan yang diukur sebagai tambahan terhadap GNP nyata pada dasarnya adalah memiliki penggunaan sumber-sumber untuk menghindarkan atau bahkan mencakupkan “faktor-faktor yang negatif” seperti tindak kejahatan kriminal atau resiko yang membahayakan keamanan negara.9
Tiga konsep pendapatan nasional dihitung nilainya yaitu: Produk Domistik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Product (GDP), Produk Nasional Bruto (PNB) atau Gross National Product (GNP) dan Pendapatan Nasional atau National Income.
Dalam menunjukkan data pendapatan nasional yang dihitung dengan cara produksi neto atau nilai tambah, ditemukan dua jenis data:
1)Pendapatan Nasional Pada Harga Tetap.
Produk Domistik Bruto atau GDP merupakan nilai barang dan jasa yang diproduksikan dalam negara dengan mengunakan factor-faktor produksi yang dimiliki oleh penduduk negara tersebut dan penduduk/perusahaan negara lain. Penghitungan GDP dengan cara pengeluaran membedakan perbelanjaan-perbelanjaan yang dilakukan dalam perekonomian kepada 5 komponen, yaitu:
a.Pengeluaran konsumsi yang meliputi perbelanjaan konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah.
b.Pengeluaran investasi dan dinamakan pembentukan modal tetap domestik bruto, mengambarkan keseluruhan pengluaran yang dilakukan dalam negara ke atas barang-barang modal.
c.Perubahan dalam stok berarti perubahan nilai barang simpanan (stok) diberbagai perusahaan di seluruh negara. Stok ini berupa barang mentah, barang yang sedang diproses (barang setengah jadi) dan barang jadi.
d.Ekspor barang dan jasa, merupakan pembelian orang luar negeri ke atas produk negara kita. Maka pengeluaran tersebut merupakan bagian dari pendapatan nasional.
e.Impor barang dan jasa, adalah pengeluaran penduduk dan perusahaan kita ke atas barang-barang yang diproduksikan di negara-negara lain.10
2)Pendapatan Nasional Pada Harga Berlaku
Membandingkan data impor dengan data ekspor, apabila ekspor lebih besar dari impor maka pendapatan nasional meningkat begitu juga sebaliknya jika impor lebih besar dari pada ekspor maka pendapatan nasional berkurang.11
Pendapatan nasional: pendapatan faktor-faktor produksi. Jenis pendapatan faktor-faktor produksi dibedakan kepada lima golongan, yaitu:
a.Ganjaran kepada pekerja atau gaji dan upah,
b.Bunga bersih adalah bunga yang diterima dari memberikan pijaman untuk kegiatan-kegiatan produktif dalam perekonomian,
c.Pendapatan dari sewa,
d.Keuntungan perusahaan dan
e.Pendapatan usaha sendiri merupakan pendapatan usaha-usaha kecil-kecilan yang dijalankan sendiri dan dengan bantuan anggota keluarganya.
Jumlah pendapatan yang diterima semua faktor-faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi dinamakan produk nasional neto (Net National Product atau NNP) menurut harga faktor atau dikenal sebagai pendapatan nasional.12
Pendapatan pribadi (individu).
Pada hakekatnya pendapatan nasional menunjukkan jumlah pendapatn yang diterima faktor-faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi. Faktor penyebab tidak samanya pendapatan nasional dengan pendapatan seluruh rumah tangga adalah:
?Sebagian pendapatan rumah tangga diperoleh bukan dari menawarkan faktor-faktor produksi. Contohnya beasiswa dan pendapatan berupa pensiun.
?Sebagian pendapatan faktor-faktor produksi tidak dibayarkan kepada rumah tangga.
Pendapatan yang sebenarnya diterima rumah tangga adalah sama dengan pendapatan nasional yang dikurangi dengan pendapatan faktor yang tidak dibayarkan kepada rumah tangga dan ditambah dengan pendapatan rumah tangga yang bukan berasal dari penawaran faktor-faktor produksi.dengan demikian pendapatan pribadi dapat didefinisikan sebagai pendapatan yang diterima seluruh rumah tangga dalam perekonomian dari pembayaran ke atas penggunaan faktor-faktor produksi yang dimilikinya dan dari sumber lain. Tiga komponen dari pendapatan factor-faktor produksi yang tidak diterima oleh rumah tangga, yaitu:
1)Pajak keuntungan perusahaan korporat
2)Keuntungan yang tidak dibagi, dan
3)Kontribusi untuk dana pengganguran.
Sedang pendapatan yang diterima bukan dari penawaran faktor-faktor produksi adalah:
1)Pembayaran pidahan,
2)pendapatan pribadi dari bunga.
Pembayaran pindahan atau transfer payments merupakan pendapatan-pendapatan individu yang diperoleh tanpa menyediakan tenaganya untuk memperoleh pendapatan tersebut.13
Pendapatan desposibel
Dari pendapatan pribadi dapat pula dihitung pendapatan disposibel, yaitu bagian dari pendapatan pribadi yang sebenarnya dapat digunakan oleh rumah tangga untuk membiayai konsumsi atau keperluan. Pendapatan desposibel dapat dihitung dengan mengurangi pajak pendapatan perseorangan dari pendapatan pribadi.14
C.Distribusi Pendapatan Nasional
Jumlah output barang dan jasa, faktor-faktor produksi dan fungsi produksi juga menentukan pendapatan nasional. Teori distribusi neo klasik berisi tentang bagaimana pendapatan nasionaldibagi di antara faktor-produksi.15
Karena faktor harga merupakan salah satu dari unsur yang menentukan pendapatan faktor produksi yang bersangkutan, suatu teori tentang harta factor penting bagi suatu teori distribusi. Teori harta faktor produksi hanyalah merupakan kasus khusus dari teori harga; harga tersebut tergantung pada permintaan dan penawaran faktor tersebut.16
Distribusi pendapatan nasional ditentukan olah harga-harga faktor. Harga faktor (factor prices) adalah jumlah yang dibayar ke faktor-faktor produksi upah yang para kerja terima dan sewa yang dikumpulkan para pemilik modal.17
Permintaan suatu faktor produksi merupakan suatu derived demand karena suatu perusahaan memerlukan tenaga kerja, bahan baku, mesin-mesin, dan fator produksi lainnya, bukanlah dipergunakan sendiri,tetapi untuk menghasilkan barang dan jasa yang akan dijualnya.18
---------------------------------
1.Paul Sitohang, teori ekonomi makro, UI Press, hlm. 34
2.Ibid., hlm. 36
3.Ibid., hlm. 37
4.Sadono Sukirno, Makro Ekonomi Modern, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2000, hlm. 28
5.Paul Sitohang, teori ekonomi makro, UI Press, hlm. 37
6.Ibid., hlm. 31-33
7.N. Gregory Mankiw, Teori Makro Ekonomi, Erlangga, hlm 42
8.Rudiger Dornbusch Stanley Fischer, Ekonomi Makro, PT Rineka Cipta, Jakarta, hlm. 40-42
9.Ibid., hlm. 49-50
10.Sadono Sukirno, Makro Ekonomi Modern, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2000, hlm.35-37
11.Ibid., hlm. 39
12.Ibid., hlm. 41
13.Ibid., hlm. 42-43
14.Ibid., hlm. 44
15.N. Gregory Mankiw, Teori Makro Ekonomi, Erlangga, hlm 44
16.Richard G. Lipsey, Peter O. Steiner, pengantar ilmu ekonomi 2, Bina Aksara, hlm. 255
17.N. Gregory Mankiw, Teori Makro Ekonomi, Erlangga, hlm 44
18.Richard G. Lipsey, Peter O. Steiner, pengantar ilmu ekonomi 2, Bina Aksara, hlm.256